Nyeri Bokong Kiri Sampai Kaki, Tanda Saraf Terjepit?

Nyeri bokong kiri dan menjalar hingga kaki bisa disebabkan oleh terjepitnya saraf sciatica.

Saraf sciatica ini berada di sekitar otot-otot piriformis di bagian bokong. Kadang nyeri pada bokong hingga kaki ini dikenal dengan sebutan sindrom piriformis.

Piriformis merupakan otot kecil yang berada di dalam bokong (di belakang otot gluteus maximus). Otot ini dimulai pada tulang punggung bagian bawah hingga ke atas tulang paha dan berdekatan dengan saraf sciatica.

Bila sciatica ini terjepit oleh otot-otot piriformis akan menimbulkan beberapa gejala yang berupa:

-Kaku atau nyeri di bagian pinggul atau pantat

-Nyeri menjalar dari bokong ke bagian hamstring atau betis

-Kesemutan ekstremitas bawah

-Nyeri dan kaku saat adanya tekanan pada muskulus piriformis, seperti saat duduk.

-Nyeri pinggang

-Nyeri ketika duduk lebih dari 15 menit

-Nyeri ketika berjalan

Nyeri pada kaki bisa timbul secara mendadak maupun secara perlahan/bertahap. Gejala tambahan lainnya dapat berupa kesemutan, kaki terasa ditusuk-tusuk jarum, dan pada kasus yang berat dapat mengganggu gerakan kaki maupun saat menekuk lutut.

Apa Penyebabnya?

Dari beberapa literatur, salah satu penyebab nyeri bokong atau sciatica adalah herniated nucleus pulposus (HNP) atau saraf terjepit di tulang belakang bagian bawah.

Bantalan sendi di bagian tersebut ada yang menonjol sehingga menjepit saraf di bagian tersebut.

Selain itu, juga bisa disebabkan oleh menyempitnya saluran saraf tulang belakang atau stenosis spinal. kondisi ini dapat membuat otot piriformis menjepit saraf sciatica.

Cedera pada tulang belakang, tumor, tumbuhnya taji di tulang belakang, keropos tulang (osteoporosis) juga bisa menimbulkan nyeri bokong yang menjalar hingga kaki.

 

Sebenarnya penyebab sindrom piriformis ini terbagi menjadi dua:

– primer, terjadi akibat adanya kompresi (penekanan) saraf secara langsung akibat cedera, peradangan

– sekunder, misalnya akibat adanya kelainan pada pembuluh darah, bursitis.

Nyeri ini juga bisa disebabkan oleh:

– pembentukan taji tulang (osteofit) yang biasanya disebabkan oleh proses penuaan sehingga tulang semakin menipis dan saling bergesekan.

– spondilolistesis atau bergesernya tulang belakang dari tempat semestinya yang dapat disebabkan oleh melemahnya tulang belakang.

Stenosis spinal atau menyempitnya saluran tulang belakang bisa diakibatkan oleh radang sendi, proses degenerasi diskus (bantalan tulang), kelainan abnormal dari tulang belakang, atau penyakit-penyakit tertentu (penyakit Paget, artritis rematoid, ankilosing spondilitis).

Terdapat beberapa kondisi yang diduga dapat meningkatkan risiko Anda mengalami nyeri ini yaitu penuaan, obesitas (dapat membebani tulang belakang), aktivitas di tempat kerja (perlu mengangkat beban berat atau duduk terlalu lama yang dapat membebani tulang belakang), dan diabetes.

Bagaimana pengobatannya?

Sebelumnya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik. Pengobatan yang diberikan biasanya berupa:

– obat antiinflamasi nonsteroid (pereda nyeri)

– latihan otot tertentu

Рkompres dingin  atau dengan es

– beristirahat

Bila pemberian obat tidak ada perbaikan, mungkin dokter akan injeksi, misalnya steroid. Namun bila semua terapi tersebut tidak juga membuahkan hasil yang diharapkan, kemungkinan dokter akan mempertimbangkan dilakukannya tindakan bedah guna melepas tekanan otot piriformis pada saraf sciatica.

Saran lain adalah hindari melakukan aktivitas olahraga lari, bersepeda dan mendayung. Hindari pula duduk dalam waktu lama dan sebaiknya lakukan peregangan otot setiap 30 menit sekali.

Teknologi Terkini, Bisa Jadi Solusinya

Bila setelah berkonsultasi dengan dokter dan dicurigai penyebabnya adalah saraf terjepit, dokter akan menyarankan untuk dilakukannya MRI.

Bila dari hasil MRI menunjukkan adanya saraf terjepit di pinggang atau stenosis di ruas tulang belakang, teknologi terkini endoskopi (percutaneous endoscopic lumbar discectomy/PELD) atau percutaneous laser disc decompression (PLDD) dapat menjadi solusi terbaik dan terkini untuk mengatasi saraf terjepit.

Kedua teknologi ini dilakukan dalam waktu sekitar 15-45 menit dan tanpa rawat inap, yang dilakukan oleh para dokter yang berpengalaman dalam bidang ini.

Teknologi PELD dan PLDD ini sudah ada di Indonesia, yaitu di Klinik Lamina Pain and Spine Center.

 

 

 

One Comment
  1. Balas
    Lis setyorini

    Untuk klinik apa ada yg diluar jakarta semisal di surabaya dan kisaran biaya sampe berapa ya untuk pengobatannya.Terimakasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jl Warung Jati Barat No.34, Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan, 12740

Informasi dan Pendaftaran

Informasi dan Pendaftaran

021-7919-6999

marketingklinik@gmail.com

Pendaftaran Online

Pendaftaran Online

Segera Klik Disini

Tanya Jawab Via Telpon