Usia Dewasa Tak Luput dari Serangan Epilepsi

Jakarta — Epilepsi memiliki dampak yang cukup besar pada aktivitas harian, psikologis maupun perilaku penderitanya.

Epilepsi merupakan kondisi neurologis yang mengenai sistem saraf pusat dan ditandai dengan episode kejang disertai hilangnya kesadaran penderita.

Penyebabnya adalah ketidakstabilan muatan listrik pada otak yang selanjutnya mengganggu koordinasi otot dan bermanifestasi pada kekakuan otot atau pun hentakan repetitif pada otot. Meskipun biasanya disertai hilangnya kesadaran, ada beberapa jenis kejang yang tidak disertai dengan hilangnya kesadaran.

Menurut International League Against Epilepsy (ILAE) tahun 2005, epilepsi didefinisikan sebagai kelainan otak yang ditandai oleh adanya kecenderungan untuk menimbulkan bangkitan epilepsi secara terus menerus. Arti bangkitan epilepsi disini adalah tanda dan/atau gejala yang timbul sepintas akibat aktivitas neuron di otak yang berlebihan dan abnormal.

Diagnosis penyakit ini dapat ditegakkan bila kejang sudah terjadi dua kali dan tidak terkait dengan kondisi medis apapun sebelumnya.

Di Indonesia, prevalensi dan insiden epilepsi belum diketahui. Hasil penelitian kelompok Studi Epilepsi Perhimpunan Dokter Saraf Indonesia di Indonesia (2013) didapatkan 2.288 orang dengan epilepsi (ODE) dengan pasien baru sebanyak 21,3%. Rerata usia pasien adalah usia produktif. Penyebab epilepsi tersering adalah cedera kepala, infeksi sistem saraf pusat (SSP), stroke, dan tumor otak.

Dalam sebuah jurnal Epilepsia dipaparkan, penyakit ini dapat terjadi di segala usia. Bahkan orang dewasa yang tidak memiliki riwayat penyakit ini sebelumnya juga bisa mengalami epilepsi di kemudian hari (adult-onset idiopathic generalized epilepsy).

Baca Juga : Pengobatan Penyakit Epilepsi Secara Umum

Kategori Epilepsi

Epilepsi dapat dikategorikan berdasarkan area otak mana yang terlibat saat kejang terjadi.

  • Epilepsi lobus temporal, ditandai dengan kejang yang berasal dari lobus temporal otak. Epilepsi lobus ini bersifat fokal (parsial), tetapi kejang lokal dapat berkembang menjadi kejang umum yang memengaruhi seluruh otak.
  • Epilepsi lobus, mengenai area frontal, atau bagian dahi.
  • Epilepsi lobus oksipital, mengenai lobus di belakang tengkorak.
  • Epilepsi lobus parietal (antara lobus frontal dan temporal), kejangnya cenderung menyebar ke area otak lainnya.
  • Epilepsi neokortikal ditandai oleh kejang yang berasal dari neokorteks, area pada permukaan otak. Epilepsi tipe ini dapat bersifat parsial atau umum, dan seringkali tidak ada fokus (titik asal) yang jelas untuk kejang.

Apa Penyebabnya?

Penyebab kejang pada saat dewasa dapat berupa trauma, infeksi sistem saraf pusat (SSP), gangguan metabolisme, obat-obatan, tumor atau gangguan serebrovaskular (seperti arteriovenous malformation/AVM).

Di sisi lain, kejang yang dimulai pada masa kanak-kanak lebih cenderung bersifat idiopatik (tidak diketahui penyebabnya). Selain itu, profil klinis dan penyebab kejang pada orang dewasa berbeda, sehingga pengobatannya pun berbeda dengan anak-anak.

Menurut Dr. Jennifer Caudle (Rowan University-School of Osteopathic Medicine), beberapa faktor pemicu epilepsi yang lain adalah trauma pada kepala, infeksi meningitis, stroke, sklerosis multipel.

Pahami Jenis Kejang

Berdasarkan aktivitas di dalam otak, kejang pada epilepsi dibagi menjadi dua, yaitu menyeluruh (generalized) dan sebagian (parsial).

A.Kejang Menyeluruh (terjadi akibat adanya impuls listrik pada seluruh bagian otak), terdiri dari:
1. Kejang Tonik Klonik/Grand Mal
2. Kejang Absence
3. Kejang Mioklonik
4. Kejang Klonik (sentakan berulang dan teratur pada kedua bagian tubuh pada saat yang bersamaan).
5. Kejang Tonik (terjadi kekakuan pada otot di seluruh tubuh).
6. Atonik (hilangnya tonus otot menyeluruh secara mendadak – khususnya pada tangan dan kaki).

B.Kejang Sebagian, terdiri dari:

1.Kejang Simpleks (penderita tidak mengalami penurunan kesadaran), terbagi menjadi 4, yaitu:

  • Motorik (terjadi kekakuan dan gerakan menyentak)
  • Sensorik (timbul sensasi abnormal atau aura yang dapat mengenai kelima indera – penglihatan, penciuman, pendengaran, pengecapan, dan peraba).
  • Otonom (memengaruhi sistem saraf otonom yang mengatur berbagai fungsi organ seperti jantung, lambung, usus, sistem saluran kemih, misalnya timbul gangguan mengendalikan proses berkemih, diare, dll)
  • Psikologis (dikaitkan dengan ingatan, emosi, atau lainnya)
  1. Kejang Kompleks (terjadi penurunan kesadaran dan dapat melakukan gerakan berulang yang tidak bertujuan misalnya merasa gelisah, dan tidak bisa diam, berjalan kesana-kemari).
  2. Kejang yang Mengalami Perubahan (pada awalnya kejang sebagian, kemudian berubah menjadi kejang menyeluruh jenis tonik klonik).

Dipaparkan oleh Epilepsy Foundation, untuk mendiagnosis epilepsi pada orang dewasa, lebih sulit. Karena kejang yang yang terjadi sering disalahartikan sebagai penyakit lain. Kadangkala aura yang timbul sebelum kejang, seperti halusinasi (bau, rasa, suara, penglihatan), disalahartikan dengan kondisi medis lainnya. Namun ada beberapa bentuk kejang lainnya, yang semua timbulnya secara berbeda.

Apa Penanganannya?

Tujuan utama terapi epilepsi adalah mengupayakan penyandang epilepsi dapat hidup normal dan memiliki kualitas hidup optimal.

Pengobatan merupakan langkah pertama dalam penanganan kasus epilepsi dan seringkali efektif untuk kendalikan kejang. Dosis biasanya dimulai dari dosis kecil dan dinaikkan secara bertahap sampai tercapai dosis terapi.

Prinsip pengobatan epilepsi adalah monoterapi dengan target pengobatan 3 tahun bebas kejang bangkitan. Bila pemberian monoterapi tidak dapat mencegah bangkitan berulang, politerapi dapat diberikan dengan kombinasi obat.

Jika kejang tidak berespons dengan obat antiepilepsi (OAE), dapat dipertimbangkan terapi nonfarmakologi yaitu tindakan bedah. Meskipun dikatakan bedah memiliki efektivitas yang baik namun tidak dapat dilakukan untuk seluruh jenis epilepsi, hanya dapat dilakukan pada epilepsi lobus temporalis (biasanya epilepsi ini yang membandel, tidak respons dengan OAE).

Harapannya adalah bebas bangkitan tanpa efek samping. Untuk tercapainya tujuan tersebut diperlukan beberapa upaya, antara lain menghentikan bangkitan, mengurangi frekuensi bangkitan tanpa efek samping/dengan efek samping yang minimal, dan menurunkan angka kesakitan dan kematian. (berbagai sumber*)