Teknologi Endoskopi: Penanganan Saraf Terjepit Tanpa Operasi

Hernia nukleus pulposus (HNP) adalah kondisi ketika bantalan atau cakram di antara tulang belakang keluar dari posisi semula dan menjepit saraf yang berada di belakangnya. Kondisi ini juga dikenal secara awam dengan istilah saraf terjepit.

Nukleus pulposus merupakan inti dari bantalan tulang belakang, yang menghubungkan antar ruas tulang belakang, dari tulang leher (servikal) hingga tulang ekor, dan bertugas untuk menjaga kelenturan gerakan tulang belakang.

Diskus atau bantalan tulang belakang terdiri dari dua bagian yaitu annulus fibrosus (bagian luar yang keras) dan nukleus pulposus (bagian dalam bantalan sendi). Nukleus ini bentuknya seperti jelly dikenal juga sebagai jel mukoprotein (mucoprotein gel) dengan komposisi utama berupa air, kolagen dan proteoglikan. Diskus berperan sebagai penyerap kejutan atau shock absorber.

Lebih mudahnya, HNP adalah sebuah kondisi medis/penyakit yang timbul akibat bantalan lunak yang ada di antara ruas tulang belakang mengalami tekanan sehingga inti bantalannya pecah dan menonjol ke arah kanalis spinalis dan menekan saraf.

Hernia pada tulang belakang paling sering terjadi di daerah lumbar (pinggang) terutama pada level L4-L5 dan L5-S1. Daerah L5-S1 ini diperkirakan menopang hingga 75% berat badan dan melakukan aktivitas tinggi (seperti saat membungkuk) hingga 57%.

Bagian lumbar inilah yang memiliki tugas menopang sebagian besar berat badan. Pada kisaran usia 30 hingga 50 tahun, akan lebih rentan mengalami penonjolan tulang belakang di bagian ini karena elastisitas dan kadar air nukleus berkurang seiring bertambahnya usia. Selain usia, menonjolnya struktur ala jelly ini juga dapat disebabkan cedera.

Kondisi tersebut mengakibatkan penderita mengalami rasa nyeri hingga penurunan kemampuan gerak fisik.

Tahapan terjadinya HNP ini sebenarnya bervariasi, yang terjadinya bisa secara lambat hingga mendadak.

HNP ini terbagi dalam 4 tahapan, yaitu:

  1. Degenerasi diskus, nukleus pulposus cenderung melemah seiring dengan pertambahan usia dan tahapan ini belum terjadi herniasi atau penonjolan.
  2. Prolaps/protrusio diskus (protrude disc), terjadi penonjolan setempat dan disertai dengan kerusakan sebagian anulus fibrosus. Tahap ini menyebabkan perubahan bentuk dan posisi diskus, disertai dengan pembengkakan dan mulai mendesak saluran tulang belakang. Disebut juga dengan istilah bulging disc atau protrusion disc.
  3. Ekstrusi diskus (extrusion disc), penonjolan ini mulai meluas namun diskus tulang belakang masih utuh.
  4. Sekuestrasi diskus (sequestration disc), bantalan sendi mulai pecah dan sudah ‘bocor’ ke arah tulang belakang.

Tahap 1 dan 2 disebut sebagai HNP tidak komplet, sedangkan tahap 3 dan 4 adalah herniasi komplet.

Tanda Saraf Terjepit

Nyeri akibat herniasi dapat mencakup sensorik, misalnya kesemutan, mati rasa, dan/atau perubahan motorik seperti kelemahan, hingga kehilangan refleks. Perubahan ini disebabkan oleh kompresi (tekanan) saraf akibat bantalan sendi yang sudah menekan saraf.

Gejalanya sangat bervariasi, bergantung pada posisi dan ukuran herniasi. Jika HNP ini tidak menekan saraf, mungkin akan timbul nyeri punggung ringan atau tidak sakit sama sekali. Namun jika menekan saraf, dapat timbul nyeri, mati rasa, atau kelemahan otot. Biasanya, HNP ditandai dengan adanya episode nyeri punggung bawah atau riwayat panjang episode intermiten nyeri punggung bawah.

Pada HNP lumbar dapat menimbulkan gejala nyeri, seperti terbakar, kesemutan dan mati rasa yang menyebar dari bokong hingga kaki. Biasanya terjadi di salah satu sisi (kiri atau kanan). Nyeri terasa lebih berat saat berdiri, berjalan atau duduk. Kadangkala saat meluruskan kaki pada bagian yang sakit juga menimbulkan nyeri berat.

Pada HNP servikal (leher), menimbulkan gejala radikulopati akibat terjepitnya saraf yang ada di leher. Dirasakan nyeri tumpul atau tajam di leher atau di antara tulang belikat. Nyerinya dapat menjalar ke lengan ke tangan atau jari-jari hingga mati rasa atau kesemutan pada leher, bahu atau lengan. Rasa nyeri ini dapat bertambah saat leher berubah posisi.

Diagnosis dan Terapi HNP

Untuk mendiagnosis HNP, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan. Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mengetahui keterbatasan gerak, gangguan keseimbangan dan nyeri. Selain itu, dokter akan menguji gerakan refleks, kelemahan otot, atau gejala neurologis lainnya.

Setelah itu, dokter akan menyarankan pemeriksaan penunjang seperti rontgen (x-ray), CT scan, dan MRI untuk mengetahui secara detail masalah yang ada di ruas tulang belakang.

Penanganan HNP bergantung pada tingkat keparahannya. Untuk membantu meredakan nyerinya, pertama dokter akan menyarankan obat-obatan yang juga dapat membantu mengatasi pembengkakan. Selain itu bisa dengan kompres hangat atau dingin, dan terapi fisik.

Namun bila penanganan tersebut tidak efektif, dokter akan melakukan tindakan penanganan yang lebih baik. Mengingat banyak pasien yang merasa khawatir untuk dilakukannya tindakan bedah terbuka yang kini sudah banyak ditinggalkan, maka teknologi minimally invasive, seperti endoskopi kini sudah semakin popular dan sudah menjadi salah satu pilihan penanganan saraf terjepit tanpa operasi.

Untuk menangani saraf terjepit di lumbar dapat dilakukan Percutaneous Endoscopy Lumbar Discectomy (PELD) dan bila di servikal dapat dilakukan dengan Percutaneous Endoscopy Cervical Discectomy (PECD). Keduanya termasuk ke dalam teknik endoskopi perkutan.

Keduanya bertujuan membantu menghilangkan herniasi bantalan sendi tulang belakang yang menyebabkan penekanan pada saraf tulang belakang.Selain sayatan yang minimal hanya 4 mm, keunggulan lain tindakan ini adalah dilakukan hanya dengan anestesi lokal.

Teknologi endoskopi memberikan harapan baru pada pasien dengan saraf terjepit yang lebih baik, karena waktu tindakan lebih singkat, proses pemulihan cepat, dan kerusakan jaringan lebih minimal.

Posisi Tubuh dan Dampak terhadap Bantalan Sendi

Posisi tubuh Anda dapat menentukan berapa banyak tekanan yang diberikan pada bantalan sendi. Ini disebut tekanan intradiskal.

Secara umum, L5-S1 (ruas tulang lumbar terakhir dan menghubungkan dengan tulang sakrum atas) mendapat tekanan paling besar karena sebagian besar berat tubuh akan ditopang disini.

Sebuah studi Swedia yang dilakukan oleh Nachemson dan Elfstrom mengukur tekanan intradiskal di tulang belakang lumbar (punggung bawah) dari berbagai posisi. Dalam kondisi sehat, tekanan ini sebenarnya didistribusikan secara merata di seluruh permukaan tubuh.

Dalam studi ini, periset mengukur dan membandingkan perbedaan tekanan terhadap bantalan sendi saat posisi berdiri dan posisi lainnya. Hasilnya menunjukkan, tekanan yang dihasilkan saat berjalan lebih ringan dibandingkan saat membungkuk atau memutar tubuh, batuk, dan melompat. Sedangkan posisi berbaring (telentang) hanya membebani tulang belakang sekitar 50% dibandingkan dengan posisi berdiri.