Sendi Leher Berbunyi ‘Krek’ Apakah Berbahaya?

Sendi leher berbunyi ‘krek’ mungkin sering Anda alami. Kadangkala saat menggerakkan sendi-sendi atau meregangkan otot setelah bekerja seharian atau merasa pegal – sadar atau tidak sadar – terdengar bunyi gemeretak atau ‘krek’. Bunyi ini dikenal dengan krepitus.

Mungkin Anda sering menyaksikan teman atau kerabat yang sering membunyikan leher, buku-buku jari tangan, atau pinggang, hingga berbunyi ‘krek’ dan sepertinya kebiasaan tersebut menimbulkan kelegaan tertentu atau menghilangkan rasa pegal yang ada.

Krepitus adalah bunyi seperti ‘krek’ yang kadang timbul saat Anda menggerakkan sendi, termasuk leher. Di antara tulang leher terdapat sendi facet yang menghubungkan sendi-sendi di area ini. Di setiap permukaan tulang terdapat kartilago atau tulang rawan.

Sendi facet ini memiliki cairan sinovial – layaknya di lutut – yang melubrikasi (melumasi) sendi-sendi. Pada ruas tulang belakang juga terdapat rongga spinal. Nah krepitus ini bisa timbul saat kesemua struktur tersebut saling bergesekan sehingga menimbulkan bunyi.

Kenali Penyebab Sendi Berbunyi ‘Krek’

Beberapa faktor berikut kemungkinan dapat menyebabkan sendi berbunyi ‘krek’:

  • Perubahan tekanan artikuler. Gelembung udara terbentuk dan bocor ke dalam cairan sinovial, sehingga berbunyi ‘krek’. Bunyi ‘krek’ ini hampir sama terjadi saat Anda menggemeretakkan buku jari tangan. Berbunyi krek bisa timbul baik saat Anda bergerak alami maupun senggaja menggemeretakkan sendi atau saat melakukan gerakan tertentu dalam program rehabilitasi medik.
  • Ligamen atau tendon yang bergerak sekitar tulang. Ligamen atau tendon ini melekat di tulang, jadi dalam beberapa kasus saat menggerakkan ligament atau otot dapat menimbulkan bunyi. Bunyi ini juga bisa timbul akibat otot atau jaringan sekitarnya terlalu tegang atau kadar elastisitasnya sudah berkurang seiring dengan proses penuaan.
  • Tulang saling bergesekan. Karena sendi facet juga berdegenerasi akibat adanya pengapuran, maka jaringan tulang rawan (kartilago) semakin menipis sehingga tulang bisa bergesekan dan berbunyi ‘krek’. Kondisi ini bisa juga terjadi di area tulang belakang lainnya.

Menggemeretakkan Sendi Leher Hingga Berbunyi Krek

Menggemeretakkan ini bisa menjadi kebiasaan kurang baik yang tadinya, mungkin mulai secara perlahan dan lambat laun menjadi perilaku yang tidak disadari bagi Anda yang sering melakukannya.

Caranya dengan memutar ruas leher atau memiringkan leher ke kiri dan kanan beberapa kali untuk mengurangi nyeri, dan mengurangi rasa pegal atau ketegangan otot.

Tahukah Anda ruas tulang leher merupakan bagian yang sangat penting sebagai penyangga kepala (dengan berat kira-kira 4-6 kg) dan selalu terjaga agar tetap seimbang.

Penyeimbangan ini membutuhkan struktur ruas leher yang stabil yaitu sendi, bantalan tulang, ligamen, dan otot.

Tambah lagi pada area leher ini terdapat aneka struktur penting lainnya yang harus terlindungi dari dampak membunyikan sendi leher secara agresif, yaitu pembuluh darah arteri (arteri karotid interna), dan ujung-ujung saraf dan persarafan di area ini.

Gerakan membunyikan sendi, bukan menghilangkan pegal justru dapat berisiko menimbulkan ketegangan/kekakuan yang tidak perlu di area jaringan ini.

Anda yang sering membunyikan sendi leher, secara perlahan dapat mengendurkan ligamen-ligamen di area leher sehingga berisiko dapat mengganggu keseimbangan atau kestabilan ruas tulang leher atau masalah lainnya yang lebih lanjut seiring dengan waktu.

Satu poin yang harus menjadi perhatian, saat membunyikan sendi leher, sulit juga untuk menargetkan area mana yang terasa kaku atau pegal. Berarti Anda bukan menyelesaikan masalah agar tidak pegal lagi, namun malah bisa kemungkinan menyebabkan masalah yang baru.

Penyebab Sendi Leher Berbunyi ‘Krek’

Bunyi ‘krek’ (krepitus) di leher biasanya dapat muncul oleh karena :

  1. Cedera atau ketegangan otot-otot leher akibat duduk dan tidur dalam posisi yang tidak semestinya
  2. Duduk di depan komputer dalam waktu lama
  3. Postur tubuh yang kurang baik
  4. Otot yang kurang fleksibel, lemah atau kaku/tegang
  5. Whiplash injury (cedera lecut), akibat kecelakaan mobil

Penyebab lainnya dapat berupa:

  1. Terlepasnya udara yang terperangkap dalam cairan sendi secara tiba-tiba
  2. Ligamen penyambung tulang menegang saat tertekan
  3. Jaringan tulang rawan yang sudah tidak lagi rata (akibat usia atau penuaan) sehingga menimbulkan bunyi saat bergesekan
  4. Kondisi medis tertentu: osteoarthritis, rheumatoid arthritis, osteofit (taji tulang), cedera, dll

Krepitus atau bunyi ‘krek’ ini biasanya tidak membahayakan, dan beberapa studi tidak menunjukkan adanya bukti dapat merusakan sendi dan meningkatkan risiko terjadinya pengapuran sendi atau artritis.

Tanda pasti bunyi ‘krek’ itu hanya krepitus adalah dengan mengulangi gerakan yang menimbulkan bunyi tersebut apakah terulang lagi. Jika tidak, kemungkinan bunyi krek itu adalah krepitus – gelembung udara memerlukan waktu sekitar 20 menit untuk terbentuk lagi.

Kapan Sendi Leher Bunyi ‘Krek’ Harus ke Dokter?

Selain terbentuknya gelembung udara, kemungkinan penyebab lain berbunyi krek atau krepitus ini juga dapat disebabkan oleh kerusakan atau disfungsi sendi leher. Kerusakan ini bisa saja muncul oleh cedera akut atau menipisnya sendi leher atau pengapuran sendi.

Ada beberapa tanda yang perlu Anda kenali bila krepitus tidak hanya sekadar gelembung udara, yaitu:

  • ‘Krek’ berulang setiap saat Anda bergerak arah tertentu
  • Disertai dengan nyeri dan pembengkakan
  • Timbul setelah cedera atau kecelakaan, atau tindakan pembedahan area leher
  • Timbul gejala pusing, keliyengan, baal, kesemutan

Berbahayakah?

Menggemeretakkan atau membunyikan area leher bisa saja berisiko bila Anda melakukannya dengan cara yang memaksa atau terlalu sering.

Membunyikan leher ‘krek’ dengan memaksa atau berlebihan kemungkinan dapat berisiko menjepit saraf-saraf di area leher. Bila ini terjadi, akan timbul nyeri luar biasa dan sulit menggerakkan leher.

Bila terlalu keras, juga dapat menekan otot dan sendi di sekitar area leher, sehingga semakin sulit leher bergerak.

Mungkin Anda merasa ingin sering membunyikan sendi leher yang disebabkan oleh hipermobilitas area ini, akibat sendi ini memiliki jangkauan gerak yang lebih luas dari biasanya.

Bila dilakukan dalam jangka panjang, ligamen-ligamen di area ini kemungkinan dapat meregang secara permanen sehingga menciptakan ketidakstabilan terus menerus area ini dan Anda pun kemungkinan berisiko mengalami pengapuran.

Ingat, leher merupakan ‘rumah’ bagi banyak pembuluh darah yang pentin. Dalam beberapa kasus saat membunyikan leher terlalu keras atau terlalu sering dapat mencederai salah satu pembuluh darah yang berada di leher. Selain itu, juga bisa berisiko terjadinya bekuan darah sehingga menyumbat aliran darah ke area otak.

Untuk informasi lebih lanjut silahkan menghubungi Klinik Lamina melalui Whatsapp atau nomer telepon tertera dalam kontak. Terimakasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jl. Hj. Tutty Alawiyah No.34, RT.7/RW.5, Kalibata, Kec. Pancoran, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12740

Informasi dan Pendaftaran

Informasi dan Pendaftaran

021-7919-6999

registrasi@lamina.co.id

Pendaftaran Online

Pendaftaran Online

Segera Klik Disini

Jadwal Praktik


Dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS

Senin   : 13:00 - Selesai
Rabu    : 13:00 - Selesai
Jumat  : 13:00 - Selesai


Dr. Bismo Nugroho, SpBS

Rabu    : 14:30 - 17:00
Kamis  : 14:00 - 17:00


Dr. Victorio, SpBS, FINPS

Selasa  : 17:00 - 20:00
Sabtu    : 16:00 - 18:00


Dr. Faisal, M.Ked (Neurosurg), Sp.BS

Senin    : 10:00 - 13:00
Selasa   : 10:00 - 13:00
Rabu     : 10:00 - 13:00
Kamis   : 10:00 - 13:00
Jumat   : 10:00 - 13:00


Prof. dr. Darto Satoto, SpAn, KAR

Selasa   : 10:00 - 16:00
Kamis   : 10:00 - 16:00


Dr. Nelfidayani, SpKFR

Selasa   : 16:00 - 20:00
Kamis   : 16:00 - 20:00
Sabtu    : 16:00 - 20:00


Dr. Rifalisanto, SpKFR

Senin   : 10:00 - 15:00
Rabu     : 10:00 - 14:00
Jumat  : 10:00 - 12:00


dr. Ratih Puspa, Sp.N

Selasa     : 17:00 - 20:00
Kamis     : 17:00 - 20:00