Saraf kranial (1)

Saraf Kranial, Tugas Dan Fungsi Utamanya Bagi Tubuh

Harum dan nikmatnya makanan masih Anda cium dan rasakan secara baik? Beruntung Anda tidak sedang dalam gejala influenza atau mungkin gejala terinfeksi virus COVID 19. Namun lebih dari itu fungsi panca indra kita ternyata ada peran penting saraf kranial atau saraf di kepala Anda. Yuks sama-sama kita kenali 12 saraf kranial yang penting dalam fungsi tubuh kita.

Dalam dunia kedokteran saraf kranial disebut juga nervus kranial dengan tanda angka Romawi. Saraf kranial memiliki peran yang cukup penting dalam mempersarafi gigi, wajah dan lidah tidak hanya pada hidung dan mata saja.

Tugas Saraf Kranial

Dunia kedokteran membagi 2 fungsi syaraf kranial yaitu dalam persarafan fungsi motorik dan sensorik. Pada fungsi sendorik saraf ini bertugas dalam mengoptimalisasi fungsi indra penciuman, penglihatan dan pendengaran. Sementara itu fungsi motoriknya bertugas membantu pergerakan otot di daerah kepala dan leher.

Hilangnya kemampuan diatas dapat mengindikasikan adanya masalah atau gangguan respon saraf kranial, secara lebih lengkap, hilangnya respons normal dapat mengidentifikasi:

  1. Kegagalan penerimaan stimulus (input)
  2. Kegagalan dalam memberikan respons yang tepat (output)
  3. Kombinasi kegagalan input dan output.

Dari 12 saraf kranial yang ada dan terhubung dengan batang otak. Saraf-saraf ini memiliki fungsi dan peran masing-masing baik sensorik maupun motorik. Berikut ini peran dan fungsi syaraf kranial secara medis, antara lain;

Saraf Kranial Olfaktori (N I)

Fungsi utama saraf kranial ini adalah sebagai saraf sensorik, untuk membantu kerja penciuman. Saraf mengirim informasi sensor penciuman dari hidung ke otak, umumnya terkait bau, baik sedap maupun tak sedap.

Pada kondisi medis tertentu jika perlu pemeriksaan respon saraf ini dokter akan meminta Anda, memejamkan mata, dan Anda akan meminta membedakan bau yang dihirup baik itu berupa aroma kopi, teh, atau yang lainnya.

Syaraf Kranial Optikus (N II)

Fungsi dari saraf kranial ini adalah sebagai saraf sensorik, yang peran utamanya pada indra penglihatan. Saat mata kita menerima sensor dari luar bersama dengan bagian pendukung mata lainnya. Saraf kranial optikus selanjutnya mengirimkan sinyak ke otak untuk diolah dan mersepons obyek yang di informasikan.

Untuk memeriksa respons saraf ini tenaga medis atau dokter biasanya menggunakan snelend card, atau cara lainnya dengan melakukan pemeriksaan lapang pandang

Syaraf Kranial Okulomotoris (N III)

Saraf ini memiliki 2 fungsi aitu mengontrol otot serta respons pupil mata. Dari 6 keseluruhan otot mata, 4 diantaranya diatur oleh saraf kranial okulomotoris. Fungsinya membantu pergerakan bola mata, dan menjaga fokus mata. Respon cahaya yang diterima mata juga diataur oleh saraf ini, sehingga dalam kondisi tertentu pupil yang menerima cahaya dapat membesar atau mengecil.

Saraf Kranial Trokhlearis (N IV)

Seperti syaraf kranial okulomotoris, saraf ini juga berperan dalam mengkontrol pergerakan mata ke dalam atau ke bawah dan memelototkan bola mata, hingga mengembalikannya pada kondisi normal. Untuk memeriksa fungsi saraf ini dokter atau tenaga medis akan menyarankan Anda melakukan test putaran bola mata, mengerakan konjugtiva, inspeksi kelopak mata hingga melakukan test refleks pupil dengan bantuan senter atau pencahayaan.

Saraf Kranial Trigeminus (N V)

Saraf trigeminus merupakan syaraf kranial terbesar, dengan dukungan pada fungsi motorik dan sensorik. Syaraf kranial trigeminus secara medis terbagi dalam 3 kelompok, yakni;

1. Optalmikus. Bertugas memberikan informasi sensorik pada wajah bagian atas, seperti dahi, kulit kepala dan kelopak mata.
2. Maksilaris. Berperan dalam fungsi sensori bagian tengah wajah seperti pipi, bibir atas dan hidung. Saraf ini juga diketahui mempersarafi gigi yang ada pada bagian rahang atas.
3. Mandibular. Berfungsi sebagai saraf motorik dan sensorik, yang mengirimkan informasi dari telinga, bibir bawah dan dagu. Rahang bagian bawah dan telinga, diatur oleh saraf mandibularisdemikian halnya dengan gigi pada rahang bagian bawah.

Ketika ada masalah pada saraf ini, Anda akan mendapat diagnosis trigeminal neuralgia, setelah sebelumnya melakukan pemeriksaan menggunakan magnetic resonance imaging (MRI).

Saraf Kranial Abdusen (N VI)

Fungsi syaraf kranial abdusen adalah mengatur pergerakan bola mata (motorik) dan sebagian gerakan ekstraokuler seperti halnya melirik. Untuk melihat fungsi saraf ini dokter atau tenaga medis akan meminta Anda melakukan putaran bola mata, menggerakan konjungtiva, dapat juga melakukan inspeksi pada kelopak mata.

Syaraf Kranial Fasialis (N VII)

Mirip dengan saraf trigeminus, saraf kranial fasialis juga memiliki peran sensorik dan motorik dengan tugas utamanya adalah mengatur pergerakan atau ekspresi wajah. Selain itu saraf ini juga berfungsi sebagai perasa makanan, menerima rangsang luar telinga dan melakukan pergerakan pada kelenjar lakrimal, submaksilar dan submandibular.

Untuk mengetahui apakah saraf ini bekerja secara optimal tenaga medis Klinik Lamina dapat menyuruh Anda melakukan beberapa gerakan pada wajah seperti senyum, menggerakan alis mata, menutup kelopak mata dengan tahanan, menjulurkan lida untuk hingga membedakan rasa gula dan garam.

Syaraf Kranial Verstibulocochlearis (N VIII)

Peran saraf ini lebih pada fungsi sensorik, yakni menjaga keseimbangan tubuh dan fungsi pendengaran. Syaraf kranial verstibulocochlearis terdiri dari 2 bagian utama yaitu vestibular yang menjaga tubuh perubahan dari gaya grafitasi dan koklearis yang mendeteksi getaran yang menghasilkan suara yang terdengar telingga. Untuk mengetahui fungsi saraf ini dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan seperti test webber hingga test rinne.

Saraf Kranial Glosofaringeus (N IX)

Saraf ini memiliki peran sensorik dan motorik, terutama untuk mengenali sensasi rasa pada lidah bagian belakang seperti rasa manis atau asam dan juga melakukan pergerakan pada tenggorokan untuk melebar dan memendek. Bagian tengah dari telinga juga masih berhubungan dengan saraf ini. Untuk mengetahui fungsinya dokter dapat melakukan pemeriksaan dengan cara menyuruh Anda membedakan rasa manis dan asam.

Saraf Vagus (N X)

Saraf vagus memiliki peran sensorik dan motorik, ia juga menerima refleks muntah dan menelan sebagai fungsi saraf parasimpatik. Fungsi sensorik dari saraf ini berada pada tenggorokan, jantung dan organ perut. Sementara fungsi parasimpatik saraf ini mengatur detak jantung, pernapasan dan saluran cerna. Untuk mengetahui fungsi saraf ini dokter akan menyarankan anda melakukan beberapa gerakan seperti menyentuh faring posterior, pasien menelan saliva, hingga mengucapkan kata “ah”

Saraf Kranial Aksesorius (N XI)

Saraf aksesorius berperan dalam pergerakan otot leher (motorik) hingga bahu. Cara pemeriksaan fungsi saraf ini adalah dengan menyarankan Anda menggerakan bahu tanpa dan dengan adanya tahanan.

Saraf Kranial Hipoglosus

Fungsi utama saraf ini adalah untuk mengerakkan otot lidah atau fungsi motorik. Cara pemeriksaan saraf ini, dokter akan meminta Anda menjulurkan lidah dan menggerakannya dari sisi satu ke sisi lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lamina

Jl Warung Buncit Raya No.34, Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan, 12740

Lamina Informasi dan Pendaftaran

Informasi dan Pendaftaran

021-7919-6999

Lamina

marketingklinik@gmail.com

Lamina Pendaftaran Online

Pendaftaran Online

Segera Klik Disini