Ini Dia ‘Pasukan’ Penyebab Nyeri pada Leher

 

Jakarta – Leher merupakan salah satu bagian penting tubuh manusia yang ditopang oleh tulang belakang, dan memiliki banyak otot dan jaringan lainnya.

Tidak seperti bagian lainnya – yang juga penting – posisi leher ini lebih terbuka dan berisiko untuk alami cedera.

Gerakan aktivitas harian yang sudah dilakukan bertahun-tahun dapat menyebabkan tekanan yang terus menerus pada leher. Bila ada nyeri di bagian ini, seringkali berkaitan dengan bagian lain yang terhubung dengan leher, seperti bahu, punggung, rahang, dan kepala.

Informasi & Pendaftaran Telepon 021-7919-6999

Nyeri di leher dapat disebabkan oleh beberapa hal, yaitu kaku otot, saraf terjepit, radang sendi leher atau artritis leher/osteoartritis servikal/spondilosis servikal, cedera (whiplash), stenosis spinal, dan tortikolis.

Selain itu, infeksi lainnya seperti tuberkulosis, osteomielitis, meningitis juga bisa menimbulkan nyeri pada leher.

Nyeri leher akibat fibromialgia dan reumatik polimialgia, bisa timbul akibat buruknya posisi leher saat tidur atau bekerja/olahraga yang dapat mengenai otot-otot di seputar leher.

Spondilosis Servikal

Salah satu penyebab nyeri leher adalah artritis atau dikenal dengan istilah spondilosis servikal/ osteoartritis servikal, merupakan salah satu peradangan yang mengenai bagian leher mencakup tulang, sendi dan bantalannya.

Spondilosis servikal biasanya dialami oleh kisaran usia paruh baya dan lanjut usia.

Seiring bertambahnya usia, tekanan harian yang berulang pada tulang belakang dan cedera kecil sekalipun dapat memengaruhi kesehatan bantalan sendi di bagian tersebut.

Perubahan yang mungkin terjadi meliputi:

  • Kehilangan cairan: Diskus intervertebralis pada usia dewasa muda yang sehat, 90 persennya adalah cairan. Dengan bertambahnya usia, kandungan cairan menurun, sehingga bantalan sendi menipis. Jarak antara tulang belakang menjadi lebih kecil, dan menjadi kurang efektif sebagai bantalan.
  • Kerusakan pada struktur bantalan sendi. Saat kartilago sudah menipis, maka antara tulang akan bergesekan sehingga memicu tumbuhnya tulang secara berlebihan atau disebut dengan osteofit (spur/taji). Bila kondisi ini berlanjut, timbul inflamasi dan nyeri. Belum lagi ditambah dengan serpihan tulang dapat ‘melayang’ dalam cairan sinovial yang ada di lapisan sendi, sehingga semakin memicu timbulnya peradangan dan rasa tidak nyaman.

Usia, obesitas, kerja/aktivitas fisik yang berlebihan, atau cedera/jatuh (baik ringan maupun berat) merupakan beberapa faktor risiko timbulnya kondisi ini.

Baca Juga : Radiofrekuensi Ablasi Atasi Nyeri Punggung dalam Hitungan Menit

Gejala Spondilosis Servikal

Jika spondilosis servikal disebabkan oleh tekanan pada ruas tulang belakang (stenosis servikal), dapat menekan tulang belakang atau dikenal dengan mielopati servikal, yang menimbulkan gejala (bisa di satu sisi atau kedua sisi):

  • Kesemutan, mati rasa, dan/atau kelemahan pada lengan, tangan, paha, atau pergelangan kaki
  • Kurang koordinasi dan kesulitan berjalan
  • Refleks abnormal
  • Spasme/tegang otot
  • Kehilangan kendali atas kandung kemih dan usus besar (inkontinensia)

Gejala ini biasanya membaik atau mereda dengan istirahat.

Spondilosis servikal merupakan salah satu jenis kelainan progresif yang paling sering terjadi di leher saat tubuh menua. Menurut American Academy of Orthopedic Surgeons, kondisi ini dialami oleh sekitar lebih dari 85 persen lansia (usia lebih dari 60 tahun).

Faktor Penyebabnya Apa Saja?

Seperti yang dilansir Medical News Today, beberapa penyebabnya antara lain:

-Proses degeneratif dan kondisi kesehatan tertentu seperti peradangan, saraf terjepit, fraktur servikal (patah tulang leher), radang sendi (artritis), degenerasi bantalan sendi tulang leher.

-Posisi tidur yang salah

-Nyeri leher yang nonspesifik, misalnya keseleo, buruknya postur tubuh saat melakukan pekerjaan atau jenis olahraga tertentu.

-Stres atau kecemasan yang dapat membuat ketegangan pada otot sekitar leher.

-Cedera whiplash (seperti kecelakaan mobil) atau mengalami pukulan keras tiba-tiba

-Radikulopati

Penyebab lainnya (namun jarang) antara lain artritis rematoid, kanker, cedera berat, infeksi, dan kelainan tulang

Trik Sehat Redakan Nyeri di Rumah

Beberapa cara untuk membantu meredakan nyeri, yaitu

-minum obat pereda nyeri yang diresepkan dokter

-kompres hangat di bagian leher yang terasa nyeri

-mengurangi stres

-memperbaiki postur tubuh saat duduk, berdiri dan berjalan

-menjaga posisi leher saat tidur

-melakukan latihan tertentu

Opsi Penanganan

Dokter akan memberikan beberapa opsi penanganan bergantung dari derajat nyeri yang dirasakan atau kerusakan. Opsi tersebut dapat berupa injeksi obat tertentu secara langsung ke bagian leher, relaksan otot, dan fisioterapi.

Tindakan bedah dapat dipertimbangkan bila gejalanya semakin memburuk atau menetap, seperti mati rasa, kelumpuhan, hilangnya kontrol buang air kecil dan buang air besar, atau kerusakan dapat memburuk bila tidak dilakukan tindakan bedah.

Jenis operasi akan bergantung pada masalah dan lokasinya. Seorang dokter dapat mengidentifikasi area yang terkena dampak dengan teknologi pencitraan, seperti sinar-X.

Dulu operasi tulang belakang menjadi solusinya. Namun kini sudah ada pilihan lainnya yaitu endoskopi.

Menurut American Association of Neurological Surgeons, endoskopi merupakan tindakan invasif minimal dengan risiko yang juga minimal karena sayatan lebih kecil, pemulihan lebih cepat, dapat dilakukan dengan anestesi lokal, dan pasien dapat langsung pulang setelah dilakukan monitoring di hari yang sama.

Beberapa opsi lain penanganannya, antara lain:

  • Modifikasi aktivitas atau olahraga. Misalnya yang tadinya sering berenang dengan gaya dada – memerlukan gerakan memutar leher – perlu diganti dengan gaya renang lainnya. Perubahan ini disesuaikan dengan aktivitas masing-masing.
  • Istirahat
  • Terapi fisik atau rehabilitasi dengan program yang sudah disesuaikan dan dibuat oleh dokter rehabilitasi medik, atau dengan kompres hangat atau dingin.
  • Obat-obatan, seperti obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) yang diresepkan oleh dokter
  • Menggunakan penyangga leher (cervical collar)
  • Radiofrekuensi ablasi (radiofrequency ablation/RFA) yang merupakan prosedur invasif minimal dengan memblok saraf agar tidak mengirimkan sinyal rasa nyeri ke otak.
  • Suntik kortikosteroid

Namun, sebagian besar spondilosis tidak perlu dioperasi.

Bila Tidak Ditangani

Menurut riset yang pernah dipublikasikan di BMJ (2007), dampak kondisi ini dapat berupa:

-stenosis spinal, yaitu penyempitan kanal tempat beradanya saraf tulang belakang dan menimbulkan nyeri di leher atau punggung hingga kaki, baik berupa mati rasa atau kelemahan otot.

-radikulopati servikal, perubahan bantalan sendi atau tulang dapat menjepit saraf sehingga menimbulkan rasa nyeri, mati rasa.

-mielopati, bila saraf tulang belakang mengalami kompresi atau terjepit, sehingga timbul nyeri dan mati rasa pada kaki/tangan, koordinasi tangan terganggu, kesulitan berjalan atau gangguan keseimbangan, hingga gangguan fungsi buang air kecil.

-skoliosis, hasil riset menunjukkan kemungkinan ada kaitan antara proses degeneratif sendi faset dengan skoliosis. Perubahan ini bisa memperburuk gejala lainnya.

-herniasi diskus (penonjolan bantalan sendi) – akibat adanya tekanan berulang atau berlebihan pada tulang belakang.

-osteoporosis

 

Informasi & Pendaftaran Telepon 021-7919-6999

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jl Warung Jati Barat No.34, Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan, 12740

Informasi dan Pendaftaran

Informasi dan Pendaftaran

021-7919-6999

marketingklinik@gmail.com

Pendaftaran Online

Pendaftaran Online

Segera Klik Disini

Tanya Jawab Via Telp