Kifoplasti, Teknologi Terkini Untuk Pengobatan Tulang Keropos Cegah Nyeri Tulang Belakang

Kifoplasti adalah teknologi baru untuk membantu perbaikan nyeri akibat patah tulang – terutama pada tulang belakang – dengan cara memasukkan ‘semen’ ke tulang yang bermasalah agar tulang dapat kembali bertugas untuk menyangga dan mengembalikan kekuatan tulang dari dalam.

Tindakan ini juga bermanfaat dalam membantu menangani keropos tulang pada kasus-kasus osteoporosis, terutama di tulang belakang.

Sebenarnya kifoplasti ini sudah cukup banyak dilakukan di Indonesia. Salah satunya adalah Ny. N. Mantan atlet lompat tinggi ini mengeluh nyeri di usia hampir 64 tahun gegara jatuh.

Namun suatu saat nyeri punggung yang dirasakannya itu sudah sangat mengganggu, dan itu pula alasan yang membawa mantan atlet ini ke Klinik Lamina, Pain and Spine Center.

Akhirnya setelah berdiskusi mengenai opsi penanganannya, beliau setuju untuk dilakukannya kifoplasti yaitu teknologi terkini untuk atasi retak tulang akibat osteoporosis yang dialaminya.

“Tindakannya cepat. Alhamdulillah hari kedua setelah tindakan, nyeri sudah tidak terasa lagi, dan satu minggu setelah tindakan, saya sudah bisa menyetir mobil lagi,” ceritanya dengan nada bahagia.

Kifoplasti, Pengobatan Keropos Tulang atau Fraktur

Cerita singkat Ny. N di atas tersebut menjadi salah satu bukti bahwa kifoplasti bisa menjadi harapan baru bagi pasien dengan nyeri yang disebabkan oleh keropos tulang.

Secara signifikan, tindakan ini dilakukan dengan cara injeksi semen artifisial (polimetil metakrilat/PMMA) ke dalam korpus vertebra dan dapat membantu meredakan nyeri yang hebat akibat fraktur vertebra akut maupun subakut. Selain itu, injeksi semen ini dapat membantu menstabilkan segmen tulang belakang yang mengalami fraktur/keropos.

Semen PMMA untuk teknologi baru yang sudah dilakukan di Lamina Pain and Spine Center tersebut, sebelumnya dicampur dengan cairan khusus sehingga menjadi ‘adonan’ yang dapat mengering cepat dalam waktu kira-kira 15 menit.

Kemudian dengan bantuan sinar X, jarum yang berisikan semen disuntikkan ke punggung menuju tulang yang retak. Pada kifoplasti, balon kecil akan dipompa saat jarum dimasukkan ke titik yang tepat, kemudian semen disuntikkan ke dalam ruang yang tercipta oleh balon kecil tadi.

Keretakan tulang yang dapat ditangani oleh kifoplasti ini biasanya terjadi pada tulang-tulang yang keropos akibat osteoporosis. Kondisi retak ini bisa membuat tulang bergesekan yang berisiko menekan saraf tulang belakang, sehingga timbul nyeri dan aktivitas pun dapat terganggu, misalnya sulit berdiri, atau tidak dapat mengangkat benda berat.

Jika tulang belakang tidak tersangga, memang kemungkinan dapat sembuh sendiri namun dalam bentuk terkompresi atau mendatar. Bila hal ini terjadi, fraktur kompresi ini tidak dapat ditangani dengan efektif.  Itu sebabnya, bila nyeri sudah dirasakan nyeri berkepanjangan selama tiga bulan lebih, sebaiknya segera dikonsultasikan kepada dokter.

Manfaat Kifoplasti

Teknologi terbaru ini merupakan penanganan nonbedah yang dipandu dengan pencitraan dan bertujuan untuk mengurangi rasa nyeri, mencegah kerusakan tulang belakang lebih lanjut, sehingga kelainan postur tubuh (tinggi badan) dan kelengkungan tulang belakang tetap terjaga.

“Kifoplasti ini dilakukan untuk membantu memperkuat tulang yang keropos, dengan cara menyuntikkan semen ke dalam tulang,” jelas Dr. dr. Wawan Mulyawan, SpBS.

Setelah semen yang disuntikkan ini mengeras, diharapkan dapat membantu mengatasi nyeri yang disebabkan oleh tulang yang keropos.

“Tindakan ini berlangsung cukup singkat dan dapat dilakukan di beberapa ruas tulang belakang yang keropos, namun bergantung pada space yang dapat diisi oleh semen yang sebelumnya akan dilakukan simulasi agar tindakan ini dilakukan dengan baik dan tepat,” lanjut dokter yang praktik di Lamina Pain and Spine Center ini.

Nyeri punggung yang dirasakan dapat mereda dalam beberapa jam setelah tindakan, dan manfaatnya dirasakan dalam jangka panjang, memiliki tingkat komplikasi yang rendah, seperti yang ditunjukkan oleh beberapa hasil penelitian.

Sejumlah penelitian yang mendokumentasikan manfaat terapi pada pasien yang telah menjalani kifoplasti (follow-up selama 2 tahun), secara signifikan kifoplasti bermanfaat dalam membantu mengurangi nyeri punggung, mempertahankan tinggi badan, perbaikan kualitas hidup, dan menjaga kelancaran aktivitas harian

Istirahat dalam waktu singkat perlu dilakukan untuk mengatasi nyeri, namun secara umum mobilisasi sesegera mungkin perlu dilakukan untuk mencegah fraktur berikutnya yang berkaitan dengan pengeroposan tulang akibat imobilisasi. Penggunaan korset yang lembut dapat digunakan untuk mempercepat mobilisasi.

Evaluasi klinis perlu dilakukan untuk memastikan ada tidaknya fraktur kompresi yang dapat diperbaiki oleh kifoplasti. Evaluasi ini bisa berupa:

  • Pencitraan diagnostik
  • Tes darah
  • Pemeriksaan fisik
  • Ronsen tulang belakang
  • Pemindaian tulang dengan radioisotop
  • MRI
  • CT scan

Osteoporosis atau Tulang Keropos

Osteoporosis adalah penyakit yang mengenai tulang dan ditandai dengan menurunnya massa tulang atau kepadatan tulang yang disebabkan oleh ketidakmampuan tubuh dalam mengatur kandungan mineral dalam tulang.

Akibatnya susunan tulang mengalami perubahan sehingga kekuatannya pun menurun, dan dapat mempermudah timbulnya patah tulang.

Selama ini osteoporosis identik dengan orang lanjut usia. Namun faktanya, kekeroposan tulang akibat osteoporosis ini bisa menyerang siapa saja, bahkan usia muda sekali pun. Walaupun osteoporosis ini termasuk salah satu penyakit degeneratif.

Pada kondisi normal, sel tulang pembangun (osteoblas) dan sel pembongkar (osteoklas) bekerja secara seimbang, silih berganti, dan saling mengisi. Bila osteoklas kerjanya melebihi osteoblast maka berdampak pada menurunnya kepadatan tulang yang menyebabkan keropos.

Tulang-tulang yang rentan terkena osteoporosis adalah tulang belakang, panggul, dan pergelangan tangan.

Terdapat beberapa faktor yang dapat mempertinggi risiko Anda terkena osteoporosis, yaitu

  • Mengonsumsi obat kortikosteroid.
  • Kekurangan hormon estrogen.
  • Jarang melakukan olahraga weight bearing.
  • Kurangnya asupan kalsium dan vitamin D.
  • Merokok.
  • Memiliki riwayat keluarga menderita osteoporosis.
  • Memiliki berat badan rendah.
  • Pernah mengalami fraktur sebelumnya.
  • Penyakit-penyakit tertentu yang dapat mengganggu proses penyerapan makanan.