Dokter saraf adalah seorang dokter yang khusus dalam mendiagnosis dan mengobati penyakit yang berkaitan dengan sistem saraf, termasuk otak, otot, dan saraf tulang belakang. Mengutip dari laman The Neurology Center (2021), seorang dokter saraf umumnya menguasai ilmu neurologi dan memiliki keahlian untuk mendiagnosis, pengelolaan dan juga pengobatan pada pasien yang mengalami gangguan syaraf.
Setelah pasien melakukan konsultasi dengan dokter umum kemudian merujuk pasien ke dokter ahli saraf jika ada tanda atau gejala gangguan saraf.
Setelah melakukan konsultasi awal dengan dokter ahli saraf, pasien akan kembali menemui dokter umum untuk membahas hasil konsultasi tersebut. Konsultasi lanjutan tersebut bertujuan untuk memantau perkembangan penyakit atau pengobatan serta menentukan apakah intervensi tambahan perlu melakukannya untuk membantu pasien menangani kondisinya.
Pasien yang memerlukan konsultasi lanjutan bersama dokter saraf
Pasien yang mendapatkan rujukan untuk menjalani konsultasi awal dengan dokter syaraf akan menanyakan pada dokter umum terkait konsultasi lanjutan yang perlu pasien jalani. Melansir dari National Health Service (2021), berikut beberapa kondisi saraf yang memerlukan konsultasi lanjutan tersebut:
- Gangguan pikiran dan hiperaktivitas,
- Autisme,
- Gangguan bipolar,
- Gangguan pada saraf bagian wajah,
- Kerusakan dan juga cedera otak,
- Penyakit tumor otak,
- Kondisi sindrom carpal tunnel,
- Demensia,
- Neuropati,
- Down Syndrome,
- Disleksia,
- Saraf terjepit,
- Serta beberapa penyakit gangguan saraf lainnya.
Cara kerja konsultasi penyakit saraf lanjutan
Selama konsultasi lanjutan berlangsung dokter saraf akan melakukan peninjauan riwayat kesehatan pada pasien, terutama saat konsultasi awal. Dokter akan meminta pasien untuk menjelaskan masalah, tanda ataupun gejala nyeri yang kerap kali muncul dan pasien rasakan. Juga akan bertanya terkait jenis obat yang biasa pasien konsumsi untuk mengurangi nyeri.
Setelah diskusi yang pasien jalani bersama dengan dokter, berikutnya akan ada tahapan pemeriksaan neurologis. Tes yang akan pasien jalani cukup bervariasi tergantung pada keluhan yang pasien rasakan, riwayat penyakit, pengobatan dan penanganan yang pernah pasien jalani. Akan tetapi setidaknya pemeriksaan ini akan mencakup beberapa tahapan seperti pemeriksaan:
- motorik,
- sensorik,
- mental,
- kranial,
- Pengujian pada otak kecil.
Setelah pemeriksaan selesai dokter akan meminta pasien untuk menjalani tes diagnostik atau prosedur pencitraan untuk memantau respon pasien terhadap pengobatan atau perkembangan gangguan yang pasien sering keluhkan. Konsultasi lanjutan bermanfaat untuk mendiagnosis serta memantau kondisi pasien dan membantu dokter umum membuat rencana pengobatan yang efektif. Tes diagnostik mencakup sinar-X, pemindai tomografi terkomputasi atau CT Scan, MRI, USG karotis, USG Doppler dan myelogram.